Distance

You told me to give you some space.

It’s hard, but I know my tendencies to mother you could be counterproductive when you’re like this. So I’ll try.

I’ll try not to bother you even a little. At least until Friday.

It shouldn’t be hard. Only for a few days.

I want to see if you’d realize I’m missing from your days and contact me before Friday.

Though…

I guess not.

But whatever. I’ll give you some time to yourself.

And I shall have time for myself to consider everything.

Image

Advertisements

Antara Obat dan Perasaan

Aku pernah bertanya, tidak pada seseorang secara spesifik, namun lebih kepada diriku sendiri–atau mungkin kepada Tuhan: “Dapatkah obat mengubah perasaan seseorang?”

Mungkin itu memang pertanyaan bodoh, tapi kau tak pernah tahu kan? Mood disorder–bipolar or not–itu disebabkan karena ada yang salah di otak. Obat itu akan mempengaruhi otak dan hormon. Otak dan hormon itu juga membentuk kepribadian–perasaan–seseorang.

Jadi waktu pacarku mulai treatment dengan obat, aku sempat takut. Apalagi, di awal pemakaian, efeknya lumayan suram.

Dia jadi seperti zombie.

Yah, not literally, of course.

Tiga hari pertama pemakaian, jam tidurnya bertambah drastis. Sampai siang dia nggak bangun. Hapenya pun sempat tewas karena lupa di-charge.

Hari-hari itu, ada rasa cemas yang berlebihan di diriku.

“Jangan-jangan dia sengaja matikan hapenya karena depresi?”

“Jangan-jangan mood-nya makin buruk dan di rumah nggak ada yang sadar?”

Ketika ia akhirnya bisa dihubungi pun, responnya sangat…minim. Memang sih, pada dasarnya dia bukan orang yang talkative, kecuali kalau lagi fase hypomanic. Tapi saat itu, responnya benar-benar alakadarnya–seperti nggak ingin ngobrol denganku.

Jujur saat itu memang aku masih sedikit stres, karena sebelum akhirnya menjalani pengobatan, dia sempat depresi sampai berhenti dari pekerjaan yang baru dua hari dijalaninya. Fase depresi terburuk sejak aku mengenalnya. Mungkin dari situ aku jadi gampang cemas dan panik jika dia bersikap sedikit aneh saja.

Akhirnya di hari kedua, saat aku dengan susah payah berhasil menghubunginya selepas maghrib sementara responnya sangat datar dan tidak antusias, akhirnya air mataku jatuh juga. Aku menangis di telepon. Dan aku tau itu sangat kontra-produktif.

I was supposed to be the caregiver. The supporter. I was supposed to be the strong one.

But I crumbled.

Antara bingung dan, mungkin frustrasi, dia bilang ke aku, bahwa sejak minum obat mood-nya jadi aneh. Ditambah lagi kantuk yang terus-menerus menyerang membuatnya makin merasa tidak nyaman. Dan dia minta maaf.

Aku sungguh bukan caregiver yang baik.

Akhirnya aku minta maaf sudah menyusahkannya. Aku minta dia tidak memikirkan tangisku. Aku bilang aku tidak ingin jadi beban tambahan untuknya.

Dia minta untuk mendiskusikannya saat kami akan bertemu lain hari.

Dua hari kemudian kami bertemu.

Saat itu kondisinya sudah jauh lebih baik. Setidaknya dia bisa berbicara banyak. Dia bisa menjelaskan apa saja yang dirasakannya sejak meminum obat. Seperti zombie, katanya. Kosong saat dia melihat bayangannya di dalam cermin.

Tapi hari itu dia sudah merasa lebih baik. Sempat terpikir oleh kami untuk menghentikan sementara obat yang diminumnya sampai dia bisa kontrol lagi dengan Psikiaternya, namun niat itu diurungkan. Kami tak ingin ambil resiko dengan tidak patuh terhadap pengobatan.

Malam itu, karena dia cukup kapable untuk mendengarkanku, aku curahkan semua kekhawatiranku, beban pikranku terkait dirinya. Aku jelaskan bahwa secara logika, aku menyadari aku ini overthinking, cemas yang tidak perlu, namun tetap saja aku tak bisa mengontrolnya.

Dia meyakinkanku bahwa seburuk-buruknya keadaan atau pikirannya, dia tidak akan melakukan hal bodoh seperti bunuh diri. Karena dia ingat dia masih punya Tuhan, masih punya Ibu, keluarga. Dan jika dia tak bisa dihubungi, artinya dia sedang hibernasi karena obat yang membuatnya ngantuk sepanjang hari itu.

Lalu, aku mengutarakan ketakutanku yang lain.

Selama ini, dia selalu rapid cycling. Periode normalnya hampir tak ada. Bisa dibilang, dirinya yang kukenal hanyalah dirinya pada fase depresi atau hypomanic. Mungkin hanya sesekali aku bisa melihat dirinya yang sebenarnya. Bahkan dia pun tidak mengenal diri dia yang sesungguhnya itu.

Aku bilang padanya, bagaimana kalau obat itu akan menghilangkan sisi-sisi dirinya yang mencintaiku? Pertanyaan yang bodoh dan egois, tapi itu adalah ketakutan terbesarku. Percaya bahwa dia juga mencintaiku adalah sumber kekuatanku untuk terus bertahan mendampinginya selama ini.

Jawaban yang dia berikan sederhana.

“Cinta itu bukan sesuatu yang hilang begitu saja cuma karena obat.”

Seketika aku merasa antara bodoh dan lega. Sediikit ragu masih ada di benakku. “Obat itu kan mempengaruhi cara kerja otak dan hormon, yang punya peran dalam membentuk kepribadan dan perasaan seseorang. What if it changed you?”

Dia hanya menatapku. Memaksaku melihat matanya, dan bilang, “I love you.”

He spent the rest of the night convincing me that he loved me.

Di lain hari setelah kejadian itu, keraguan akan kembali muncul. Keraguan apakah dia bisa tetap mencintaiku meski dengan segaka perubahan yang ada dalam dirinya karena penyakit dan obat itu. Namun saat hari-hari seperti itu datang, aku akan menengok ke belakang dan mengingat kata-katanya. Lalu aku akan meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak boleh egois. Bahwa dia membutuhkan aku dan regardless of his fluctuative feelings, aku akan membantunya sembuh.

Note: Obat yang diberikan padanya adalah Depakote dan Seroquel. Seroquel inilah yang membuatnya ngantuk terus-menerus dan membuatnya jadi seperti zombie. Di awal penggunaan mungkin terlihat kontra-produktif, tapi seiring dengan pengobatan berjalan, ternyata memang membantu.

How To Be Happy

Kadang, bahagia itu sederhana. Kadang, saking sederhananya malahjadi rumit :’) #apa

The Moon Head

Dicomot dari: 9gag.com/gag/ay5nN3V

ay5nN3V_700b

Gambarnya unyu ya. Simpel dan kelihatannya di-scan dari sebuah majalah. Sumber sudah saya sebutkan diatas jadi saya nggak tahu ini dari majalah apa.

Mungkin nggak semua hal di gambar ini mudah dilakukan/dikembangkan. Tergantung pada apa yang hati kita cari dan apakah kita mau MEMULAInya. Karena biasanya kita lebih cenderung memandang sulit/repotnya aja dan terus menciptakan syarat baru untuk merasa bahagia. *introspeksi*

Tapi kalau kita menghargai motivasi sekecil apapun yang bisa kita gunakan untuk berkembang, kita tahu semua yang disebutkan diatas bisa kita mulai lakukan, dan mungkin akan menjadi langkah awal bagi perubahan yang lebih besar dalam hidupmu.

Poin yang mana dari gambar diatas yang paling ingin kamu coba kembangkan?

View original post

First Post

Blog baru. Aku buat karena aku butuh outlet untuk menampung curhatanku sama diri sendiri. Tentang hidup, cinta…

Ya, mencintai seseorang yang memiliki ‘penyakit’ memang gak gampang. Apalagi kalau penyakit itu berpengaruh pada psikologisnya. Kejiwaannya.

Kadang aku merasa gak kuat, tapi aku gak mau melepaskan.

Aku mau bertahan.

Karena itu aku butuh pelepasan.

that’s the purpose of this blog 🙂